Nilai-Nilai Kearifan Lokal Lahan Basah dari Masyarakat Suku Banjar


Kalimantan Selatan terkenal akan potensi rawa dan lahan basahnya yang masih belum tersentuh dan dimanfaakan secara maksimal. Kali ini membahas tiga tempat lahan basah yang memiliki karakteristik yang berbeda, ketiga tempat tersebut adalah kilometer 17 Gambut, lalu Desa Pagatan Besar dan Damit di Pelaihari. Ketiga tempat ini memiliki karakteristik tersendiri, yaitu lahan Gambut sebagai daerah potensial tanaman berkhasiat obat dan reklamasi, Pagatan Besar sebagai daerah pesisir pantai yang keruh akibat pelarutan lumpur dan menjadi korban erosi pantai sementara Damit sebagai daerah tangkapan air yang debit airnya belum dapat dikontrol sepenuhnya dan dimanfaatkan semaksimal mungkin.
Lahan gambut umumnya memiliki air yang mengandung besi dengan kadar tinggi, hal ini dibuktikan dengan banyaknya tumbuhan Purun Tikus di tempat itu. Selain itu juga diberi tahu bahwa lapisan bawah tanah dari gambut ini rawan terbakar dan karena tersebar luas, maka akan sulit untuk melakukan pemadaman jika terjadi kebakaran di lahan gambut ini. Namun ternyata ada reklamasi pada lahan gambut ini yang dilakukan dengan cara pembakaran. Potensi tanaman obat disana cukup banyak, seperti Karamunting, Galam dan Teratai. Tanaman-tanaman ini memiliki potensi sebagai obat. Seperti misalnya teratai Selain keelokan bunganya, tanaman yang kerap disebut dengan bunga seroja, padma atau lotus ini juga sarat manfaat. Umbi, daun, bunga dan biji teratai dipercaya dapat mengobati pendarahan, keputihan, sakit jantung, insomnia dan batuk berdarah. Begitu pula dengan kayu Galam yang mengandung minyak Atsiri, sebagaimana yang telah diketahui minyak Atsiri bermanfaat untuk menghangatkan tubuh dan mengusir serangga seperti pada minyak kayu putih.
Pagatan Besar, pesisir pantainya hanya ‘dihiasi’ oleh tanaman Api-api yang setengah mati dan endapan lumpur. Batas air dari perumahan warga tidaklah sampai 1 kilometer, padahal menurut salah seorang warga, 4 tahun lalu batas air laut dari perumahan warga bisa mencapai 2,5 kilometer. Hal tersebut membuktikan betapa parahnya erosi pantai yang telah terjadi. Selan itu, pernah terjadi pasang sampai membanjiri perumahan warga dan memaksa warga setempat untuk mengungsi selama beberapa hari. Daerah tersebut jelas sekali memerlukan penanganan dari pihak yang berwenang, karena jika terus dibiarkan, maka erosi pantai akan terus mengikis daerah tersebut yang tentunya akan sangat merugikan serta menyusahkan warga dan buka tidak mungkin akan dapat menelan korban.
Flora di sana tidak begitu potensial sebagai tanaman obat, masyarakat di daerah ini sendiri lebih senang meminta obat generik dari Puskesmas yang ada di sana. Namun di sana terdapat hewan seperti ikan yang dinamakan ‘Timpakul’ oleh masyarakat setempat yang mana menurut mereka, hewan tersebut dapat menyembuhkan orang yang ‘manggah’. Selain itu tak ada lagi potensi yang dapat diambil selain dari sektor perikanan, dan daerah ini memang bukan daerah yang dikaji potensinya, namun lebih kepada kondisi pantai yang perlu penanganan serius.
Daerah ketiga yang ditinjau adalah daerah Damit, pada daerah ini yang menjadi titik pandang adalah daerah tangkapan airnya, walaupun juga sepertinya ada potensi tanaman berkhasiat obat, namun tidak menjadi bahan pengamatan utama, karena daerah ini merupakan daerah tangkapan air. Didaerah ini terlihat tanggul yang jebol, dikarenakan tidak mampu menampung debit air yang melebihi kapasitas. Daerah tangkapan air di damit ini sebenarnya sudah cukup bagus, namun yang perlu ditinjau adalah bagaimana penanganannya, pemanfaatan dan tindak lanjut terhadap kemungkinan kekurangan atau kelebihan air yang bisa terjadi sesuai pengaruh musim. Memang sudah ada sistem irigasi yangi telah
dibangun untuk mengatur pasokan kebutuhan air bagi sawah dan keperluan penduduk setempat, namun tetap saja harus dipikirkan tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Daerah ini bisa dikembangkan lagi sehingga memiliki potensi yang lebih bermanfaat dan berdayaguna bagi masyarakat sekitar bahkan bagi masyarakat luas.

Berikut adalah nilai-nilai kearifan lokal yang saya dapat:
1.      Nilai Ekonomi
Keanekaragaman hayati yang terdapat di lahan basah bisa menghasilkan nilai ekonomi. Keanekaragaman flora yang terdapat di lahan basah diantaranya berbagai jenis tanaman, baik tanaman pangan, tanaman buah-buahan maupun tanaman obat-obatan. Faunanya pun terdapat berbagai jenis ikan. Flora dan fauna tersebut jika diberdayakan oleh masyarakat sekitar, bisa dijual dan menghasilkan nilai ekonomi. Berbagai jenis sumber daya tersebut bisa dijadikan bahan baku industri dan berbagai komoditas perdagangan yang bernilai ekonomi tinggi dan dapat menambah devisa negara.
2.      Nilai Ekologis
Nilai ekologis yaitu keanekaragaman hayati memiliki peranan dalam mempertahankan keberlanjutan ekosistem. Lahan basah sebagai penyedia dan penjaga siklus hidrologis, meminimalisasi erosi, penahan dan penawar pencemaran, pencegah intrusi air laut, pengendali banjil dan kekeringan, serta berperan penting dalam pengendali iklim global.
3.      Nilai Biologis
Nilai biologis, yaitu keanekaragaman hayati dibutuhkan sebagai penunjang kehidupan bagi makhluk hidup termasuk manusia. Lahan basah bisa memelihara kualitas air, artinya bisa mereduksi polutan, pencemar air dan bisa sebagai penyerap CO2 dan penghasil O2 yang relatif tinggi yang berguna untuk makhluk hidup termasuk manusia.
4.      Nilai Filosofis
Secara filosofis, pengelolaan SDA lahan basah yang berkelanjutan jelas untuk memenuhi kebutuhan saat ini dengan tanpa mengabaikan pemenuhan kebutuhan bagi generasi yang akan datang, baik dari segi keberlanjutan hasil maupun fungsi, karena telah hidup berjuta asa di lahan basah.
5.      Nilai Produksi
Lahan basah sebagai penyedia hasil hutan, pendukung kegiatan pertanian, sumber protein hewani akuatik dan sebagai sumber pendapatan masyarakat.
6.      Nilai Konsumtif
Nilai konsumif, yaitu keanekaragaman hayati memberikan manusia sumber daya untuk mencukupi kebutuhan pangan. Nilai konsumtif terdapat pada pemanfaatan lahan basah. Manusia mencukupi kebutuhan pangan dengan mengambil sumber daya di lahan tersebut. Contohnya: Umbi-umbian dan berbagai jenis ikan.
7.      Nilai Vital
Nilai vital, yaitu nilai yang berguna bagi manusia untuk mengadakan kegiatan atau aktivitas. Manfaat lahan basah dapat digunakan masyarakat sekitarnya sebagai pelindung lingkungan, baik bagi lingkungan ekosistem daratan, lautan, maupun sebagai habitat berbagai jenis fauna.
8.      Nilai Material
Nilai material, yaitu nilai yang berguna bagi kehidupan jasmani manusia atau kebutuhan ragawi manusia. Banyaknya tanaman yang tumbuh di daerah lahan basah bisa berguna untuk kehidupan manusia. Tanaman obat-obatan bisa dipakai manusia untuk mengobati dirinya saat sedang sakit. seperti Karamunting, Galam dan Teratai. Tanaman-tanaman ini memiliki potensi sebagai obat. Umbi, daun, bunga dan biji teratai dipercaya dapat mengobati pendarahan, keputihan, sakit jantung, insomnia dan batuk berdarah. Begitu pula dengan kayu Galam yang mengandung minyak Atsiri, sebagaimana yang telah diketahui minyak Atsiri bermanfaat untuk menghangatkan tubuh dan mengusir serangga seperti pada minyak kayu putih. Itu tentu saja berguna untuk kehidupan jasmani dan ragawi manusia.
9.      Nilai Budaya
Kalimantan Selatan merupakan potensi yang ibu kotanya dijuluki dengan kota seribu sungai, karena banyak sungai yang mengaliri di daerah di provinsi ini sehingga kawasan lahan basah di daerah ini cukup luas keberadaannya. Lahan basah banyak digunakan manusia untuk memperoleh manfaat yang sebanyak-banyak nya. Oleh sebab itu nilai budaya termasuk disini.
10.  Nilai Estetika
Lahan basah mempunyai kondisi alam yang eksotik, juga keberadaanya berasosiasi dengan perkembangan budaya masyarakat setempat yang terapresiasi dalam bentuk kearifan-kearifan lokal.

Komentar

Postingan Populer